Hal Yang Dapat Kamu Lakukan Kepada Ibumu Disaat Usiamu Sudah Menginjak 20 Tahun

http://www.atm303.com/sportsbook.html

Menjadi ibu adalah salah satu pekerjaan paling berat di dunia. Tanggung jawabmu bukan hanya soal uang dan benda-benda, namun hidup seorang manusia. Dari mengandung, melahirkan, hingga memperkenalkan berbagai hal di dunia kepada anak; terpaksa izin tak masuk kantor ketika dia sakit, membelanya dari bully di sekolah, memeluknya saat ia pertama kali patah hati — hidup ibu dan anaknya berkelindan di tiap jengkal.

Dengan kehadirannya di tiap hari yang kita punya, pantaskah kita menunggu Hari Ibu setahun sekali untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang membuatnya bahagia?

Jangan menunggu untuk menyampaikan ucapan-ucapan ini kepada ibumu. Biarkan beliau tahu, pengorbanannya untukmu selama lebih dari 20 tahun terakhir ini tak sia-sia! Situs Judi Bola

1. “Maaf aku sering tak sabar mengajarkan Mama memakai laptop. Padahal, Mama tak pernah gusar saat mengajariku berbicara atau membaca.”
Mama, aku minta maaf kalau aku sering tidak sabaran. Ketika Mama minta dibimbing untuk menggunakan laptop atau ponsel baru, aku pasti akan menggerutu. “Duuuh, begitu aja kok nggak bisa sih?” Semua hal yang baru bagimu adalah hal yang terlihat mudah dan sederhana bagiku.

Aku lupa bahwa dulu Mamalah yang mengajarkanku banyak hal baru — hal-hal yang bagi Mama begitu mudah dan sederhana. Mamalah yang mengajarkan aku bicara, berjalan, membaca, hingga meresapi materi dari mata pelajaran paling sulit di sekolahku dulu.

Aku tak ingat Mama marah ketika aku salah mengeja huruf dan angka. Aku tak ingat Mama mengeluh kenapa aku tak bisa-bisa, ketika konsep matematika yang kumengerti tak juga melebihi “1 + 2”. Ah, apa hakku untuk marah-marah ketika Mama kesulitan berinteraksi dengan teknologi? Bukankah dengan apa yang telah Mama ajarkan padaku selama ini, seharusnya aku malu ketika gagal bersabar saat mengajarmu?

2. “Mama benar, aku sering malas mengerjakan pekerjaan rumah. Tak ada pembelaan diri di sini — hanya permintaan maaf yang murni.”
Ketika sedang berada di rumah, aku pasti merasa malas dan ogah-ogahan ketika Mama meminta sedikit bantuan. Bahkan, aku sering pura-pura tidak mendengar atau menyibukkan diri dengan tugas kuliah, padahal sebenarnya aku hanya malas dan sedang asyik dengan gadget-ku saja. Kalaupun aku akhirnya membantu, tak jarang Mama akan mendengarkan gerutu dan keluhanku.

Aku tak pernah berpikir bahwa pekerjaan yang dalam 15 menit sudah membuatku capek dan pegal-pegal ini adalah pekerjaan yang selalu Mama jabani, berjam-jam setiap hari. Aku tak pernah berpikir bahwa Mama sudah melakukan ini bertahun-tahun, dalam diam.

Mama bukan malaikat, aku tahu. Mama pun pasti pernah merasa kesal, muak, dan bosan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah ini. Mama ingin punya seseorang yang membantu — seseorang untuk berbagi. Maaf ya Ma, aku belum bisa menjadi orang yang bisa Mama andalkan untuk membantu selama ini.

http://www.atm303.com/sportsbook.html

3. “Mama tidak harus menjadi ibu. Tapi, Mama memilih memiliki aku daripada melakukan hal-hal lain yang bisa membuat Mama bahagia. Terima kasih, Mama.”
Aku selalu ingin menanyakan hal ini pada Mama. Namun, selalu urung kutanyakan karena aku tak berani mendengar jawabannya:

Rasanya jahat sekali kalau seorang Ibu bilang “Tidak. Seandainya saya bisa memilih sekali lagi, saya tidak akan mau menjadi Ibu.” Namun seharusnya kita bisa memahami perasaan seperti itu. Bukankah menjadi ibu adalah pekerjaan yang berat — yang mengharuskan seorang wanita mengorbankan banyak hal dalam hidupnya, termasuk ambisi-ambisi dan seringkali pekerjaannya?

Aku ingin menanyakan hal itu, karena tahu betapa melelahkan dan mahalnya membiayai kehidupanku. Aku punya banyak permintaan, banyak kebutuhan dan lebih banyak lagi keinginan. Bahkan di usiaku yang sudah 20-an ini aku belum bisa membiayai sepenuhnya hidupku. Ingat ketika aku harus minta uang lagi karena laptopku harus direparasi? Ingat ketika aku bertanya apa Mama masih bisa membantuku membayar uang kost tahun ini?

Kadang, aku berkhayal apa saja yang bisa Mama lakukan seandainya Mama tak harus membiayai dan merawatku. Mama bisa pergi keliling dunia, Mama tak perlu menolak promosi dari kantor dengan alasan tak bisa berpisah dari keluarga, Mama bisa belanja dan melakukan hobi Mama sepuas-puasnya. Mama bisa bahagia.

Seorang wanita tak punya kewajiban untuk punya anak. Seorang wanita bisa lebih memilih karier atau hobinya, dan itu sah-sah saja — tak ada yang berhak mengatur-atur pilihan hidupnya. Namun di antara semua pilihan yang Mama punya, di antara semua kesempatan yang jelas bisa membuat Mama bahagia… Mama memilih memiliki aku. Terima kasih, Ma, karena telah memilihku. Maafkan aku karena terlalu sering lupa: aku bisa ada di dunia ini karena pilihan Mama.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *